MEMBEDAH LEGENDA BAHASA JAWA
A.
AJI
SAKA
Bahasa jawa, bahsa yang pernah
dijadikan bahasa pemerintahan dalam monarki jawa. Sebelum jaman kemerdekaan dan
sebelum kongres pemuda tahun 1928 bahasa jawa menjadi salah satu warisan bangsa
yang masih banyak mengandung misteri dalam cerita-cerita rakyat yang tersebar.
Cerita tersebut terkait dengan Aji Saka seorang pangeran dari India dengan
pengawal empat orang yaitu Dora, Sembada, Duga, dan Prayoga. Jika dimaknai dari
nama mereka sangat jauh dengan nama-nama orang India dan lebih mirip dengan
nama-nama orang Jawa. Apa benar Aji Saka berasal dari India? Dan apakah benar
Aji Saka adalah sosok orang?. Maka dalam uraian berikut adalah penelusuran
makna dan tuntunan dari Aji Saka dan huruf jawa.
B. ASAL-USUL HURUF JAWA
Legenda
bahasa jawa dari tutur tinular berasal dari Aji Saka, seorang pangeran yang
berasal dari India. Aji Saka diikuti oleh pengawalnya yang bernama Dora,
Sembada, Duga, dan Prayoga. Dalam perjalanan ke Pulau Jawa sebelumnya Aji Saka
istirahat dulu di Pulau Majeti dalam sementara waktu. Suatu ketika Aji Saka
menyampikan amanat kepada para pengawalnya bahwa dirinya akan meneruskan
perjalanannya ke Pulau Jawa, Dora dan Sembada akan tinggal di Pulau Majeti, dia
akan berangkat bersama Duga dan Prayoga.Aji Saka menitipakan sebuah keris untuk
dijaga oleh Dora dan Sembada sekaligus berpesan bahwa tidak seorangpun
diperbolehkan mengambil keris itu kecuali dirinya sendiri. Dora dan Sembada
sangat memperhatikan amanat dari Aji Saka yang diberikan kepada mereka berdua.
Selanjutnya Aji Saka dan kedua pengawalnya Duga dan Prayoga kembali meneruskan
berlayar menuju Pulau Jawa.
Sudah sekian lama Dora
dan Sembada menunggu tuannya menjemput mereka berdua, namun Aji Saka yang
ditunggu tak kunjung datang. Suatu saat terdengar kabar oleh keduanya bahwa
tuannya telah menjadi raja di Medhang Kamulan. Dora sangat berkeinginan untuk
datang ke tuannya di daerah Medhang Kamulan di Pulau Jawa untuk menyatakan
kebenaran kabar yang dia dengar. Dora mengajak Sembada meninggalkan pulau
Majeti pergi bersama ke Medhang Kamulan. Sembada tidak mau ajakan Dora. Karena
ia mentaati perintah Aji Saka bahwa dikemudian hari tuannya akan datang sendiri
ke Pulau Majeti untuk mengambil kerisnya. Dora tetap berpendirian sangat keras
untuk membuktikan bahwa tuannya telah menjadi raja di Pulau Jawa. Dora kemudian
berangkat sendiri tanpa Sembada, secara sembunyi-sembunyi berangkat ke Medhang
Kamulan di Pulau Jawa.
Sampai di Pulau Jawa,
Dora pergi ke Medhang Kamulan menemui Aji Saka. Dora bertemu Aji Saka, disambut
dengan suka cita karena Aji Saka sudah lama tidak ketemu dengan pengawalnya
tersebut. Kesempatan bertemu dengan Aji Saka dimanfaatkan oleh Dora untuk
menjelek-jelekkan Sembada untuk mencari muka pada Aji Saka. Pengaruh Dora
membuat Aji Saka hatinya terbakar, lalu memerintahkan Dora untuk membawa Sembada
ke Medhang Kamulan, sekaligus membawa keris yang dititipkan disaat tinggal di
Pulau Majeti. Dora bernagkat ke Pulau Majeti untuk membawa Sembada sekaligus
mengambil keris Aji Saka. Sampai di Pulau Majeti Dora meminta Sembada ke Pulau
Jawa dengan membawa keris yang dititipka oleh Aji Saka. Sembada tetap
bersikukuh kalau dia akan menyerahkan keris tersebut bila Aji Saka yang
mengambil. Sebelum Aji Saka datang ke Majeti dan mengambil keris sendiri
Sembada tidak akan menyerahkan. Dora tersinggung ketidak percayaan Sembada,
karena Dora juga menjalankan perintah Aji Saka.
Kedua pengawal tersebut terus bertahan pada pendapatnya masing-masing,
kemudian terjadi perkelahian yang sangat sengit berhari-hari. Perkelahian sangat
seruh dan mengadu kesaktian masing-masing yang berujung pada kematian kedua pengawal tersebut. Hati Aji Saka
gelisah, lalu mngutus kedua pengawalnya lagi Duga dan Prayoga menyusul Dora dan
Sembada. Berangkatlah kedua pengawal tersebut menuju Pulau Majeti. Sesampai di
Pulau Majeti, Prayoga dan Duga sangat terkejut melihat Dora dan Sembada menjadi
mayat dan tertusuk keris didadanya. Selanjutnya Duga dan Prayoga memungut keris
milik Aji Saka, lalu meninggalkan Dora dan Sembada yang sudah menjadi mayat di
Pulau Majeti.
Prayoga dan Duga kembali
ke tanah Jawa dan menuju ke Medhang Kamulan menemui Aji Saka. Sesampai di
kerajaan Medhang Kamulan Duaga dan Prayoga menceritakan keadaan Dora dan
Sembada ke Aji Saka. Kemudian Aji Saka sangat menyesal atas kesalahan yang dia
buat, yang tidak menepati janjinya bahwa dia kelak akan mengambil pusakanya
sendiri. Kekhilafan Aji Saka menyebabkan matinya kedua pengawalnya dengan
sangat mengenaskan. Dalam kodisi prihatin akan kematian Dora dan Sembada maka
Aji Saka menciptakan huruf jawa yang terdiri dari dua puluh huruf yaitu : Ho, No, Co, Ro, Ko, Do, To, So, Wo, Lo, Po,
Do, Jo, Yo, Nyo, Mo, Go, Bo, Tho, Ngo. Disusun menjadi 4 (empat) baris
yaitu :
1.
Ho,
No, Co, Ro, Ko
2.
Do,
To, So, Wo, Lo
3.
Po,
Do, Jo, Yo, Nyo
4.
Mo,
Go, Bo, To, Ngo
Demikian
legenda dari tutur tinular yang berabad-abad lamanya dipercayai oleh masyarakat
jawa khususnya, bahkan dilakonkan dalam cerita pewayangan. Cerita tersebut
sangat menarik dan patut ditelusuri dalam menggalih makna yanga ada.
Siapakah sebenarnya Aji Saka, dan makna apa yang
terkandung dalam huruf jawa, serta adakah tuntunan yang harus dikaji dalam
legenda tersebut. Berikut penelusuran hubungan Aji Saka, Dora, Sembada, Duga
dan Prayoga dengan Ho, No, Co, Ro, Ko, Do, To, So, Wo, Lo, Po, Do, Jo, Yo, Nyo,
Mo, Go, Bo, To, Ngo dalam kajian untuk menggalih misteri tuntunan yang ada
dalam hubungan tersebut.
Semoga Bermanfaat
ARTIKEL
TERKAIT
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin
Hasan Bin Ahmad Part1 NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part2
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part3
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part4
Hikmah Bersabar Dalam Menghadapi Ujian (cobaan) Dari Allah
Pendidikan SEX Ala Santri
Pondok Al Mansyuriah