-->

Senin, 12 September 2016

MEMBEDAH LEGENDA BAHASA JAWA

MEMBEDAH LEGENDA BAHASA JAWA

A.    AJI SAKA
                        Bahasa jawa, bahsa yang pernah dijadikan bahasa pemerintahan dalam monarki jawa. Sebelum jaman kemerdekaan dan sebelum kongres pemuda tahun 1928 bahasa jawa menjadi salah satu warisan bangsa yang masih banyak mengandung misteri dalam cerita-cerita rakyat yang tersebar. Cerita tersebut terkait dengan Aji Saka seorang pangeran dari India dengan pengawal empat orang yaitu Dora, Sembada, Duga, dan Prayoga. Jika dimaknai dari nama mereka sangat jauh dengan nama-nama orang India dan lebih mirip dengan nama-nama orang Jawa. Apa benar Aji Saka berasal dari India? Dan apakah benar Aji Saka adalah sosok orang?. Maka dalam uraian berikut adalah penelusuran makna dan tuntunan dari Aji Saka dan huruf jawa.
B.     ASAL-USUL HURUF JAWA
                        Legenda bahasa jawa dari tutur tinular berasal dari Aji Saka, seorang pangeran yang berasal dari India. Aji Saka diikuti oleh pengawalnya yang bernama Dora, Sembada, Duga, dan Prayoga. Dalam perjalanan ke Pulau Jawa sebelumnya Aji Saka istirahat dulu di Pulau Majeti dalam sementara waktu. Suatu ketika Aji Saka menyampikan amanat kepada para pengawalnya bahwa dirinya akan meneruskan perjalanannya ke Pulau Jawa, Dora dan Sembada akan tinggal di Pulau Majeti, dia akan berangkat bersama Duga dan Prayoga.Aji Saka menitipakan sebuah keris untuk dijaga oleh Dora dan Sembada sekaligus berpesan bahwa tidak seorangpun diperbolehkan mengambil keris itu kecuali dirinya sendiri. Dora dan Sembada sangat memperhatikan amanat dari Aji Saka yang diberikan kepada mereka berdua. Selanjutnya Aji Saka dan kedua pengawalnya Duga dan Prayoga kembali meneruskan berlayar menuju Pulau Jawa.
                        Sudah sekian lama Dora dan Sembada menunggu tuannya menjemput mereka berdua, namun Aji Saka yang ditunggu tak kunjung datang. Suatu saat terdengar kabar oleh keduanya bahwa tuannya telah menjadi raja di Medhang Kamulan. Dora sangat berkeinginan untuk datang ke tuannya di daerah Medhang Kamulan di Pulau Jawa untuk menyatakan kebenaran kabar yang dia dengar. Dora mengajak Sembada meninggalkan pulau Majeti pergi bersama ke Medhang Kamulan. Sembada tidak mau ajakan Dora. Karena ia mentaati perintah Aji Saka bahwa dikemudian hari tuannya akan datang sendiri ke Pulau Majeti untuk mengambil kerisnya. Dora tetap berpendirian sangat keras untuk membuktikan bahwa tuannya telah menjadi raja di Pulau Jawa. Dora kemudian berangkat sendiri tanpa Sembada, secara sembunyi-sembunyi berangkat ke Medhang Kamulan di Pulau Jawa.
                        Sampai di Pulau Jawa, Dora pergi ke Medhang Kamulan menemui Aji Saka. Dora bertemu Aji Saka, disambut dengan suka cita karena Aji Saka sudah lama tidak ketemu dengan pengawalnya tersebut. Kesempatan bertemu dengan Aji Saka dimanfaatkan oleh Dora untuk menjelek-jelekkan Sembada untuk mencari muka pada Aji Saka. Pengaruh Dora membuat Aji Saka hatinya terbakar, lalu memerintahkan Dora untuk membawa Sembada ke Medhang Kamulan, sekaligus membawa keris yang dititipkan disaat tinggal di Pulau Majeti. Dora bernagkat ke Pulau Majeti untuk membawa Sembada sekaligus mengambil keris Aji Saka. Sampai di Pulau Majeti Dora meminta Sembada ke Pulau Jawa dengan membawa keris yang dititipka oleh Aji Saka. Sembada tetap bersikukuh kalau dia akan menyerahkan keris tersebut bila Aji Saka yang mengambil. Sebelum Aji Saka datang ke Majeti dan mengambil keris sendiri Sembada tidak akan menyerahkan. Dora tersinggung ketidak percayaan Sembada, karena Dora juga menjalankan perintah Aji Saka.  Kedua pengawal tersebut terus bertahan pada pendapatnya masing-masing, kemudian terjadi perkelahian yang sangat sengit berhari-hari. Perkelahian sangat seruh dan mengadu kesaktian masing-masing yang berujung pada kematian  kedua pengawal tersebut. Hati Aji Saka gelisah, lalu mngutus kedua pengawalnya lagi Duga dan Prayoga menyusul Dora dan Sembada. Berangkatlah kedua pengawal tersebut menuju Pulau Majeti. Sesampai di Pulau Majeti, Prayoga dan Duga sangat terkejut melihat Dora dan Sembada menjadi mayat dan tertusuk keris didadanya. Selanjutnya Duga dan Prayoga memungut keris milik Aji Saka, lalu meninggalkan Dora dan Sembada yang sudah menjadi mayat di Pulau Majeti.
                        Prayoga dan Duga kembali ke tanah Jawa dan menuju ke Medhang Kamulan menemui Aji Saka. Sesampai di kerajaan Medhang Kamulan Duaga dan Prayoga menceritakan keadaan Dora dan Sembada ke Aji Saka. Kemudian Aji Saka sangat menyesal atas kesalahan yang dia buat, yang tidak menepati janjinya bahwa dia kelak akan mengambil pusakanya sendiri. Kekhilafan Aji Saka menyebabkan matinya kedua pengawalnya dengan sangat mengenaskan. Dalam kodisi prihatin akan kematian Dora dan Sembada maka Aji Saka menciptakan huruf jawa yang terdiri dari dua puluh huruf yaitu : Ho, No, Co, Ro, Ko, Do, To, So, Wo, Lo, Po, Do, Jo, Yo, Nyo, Mo, Go, Bo, Tho, Ngo. Disusun menjadi 4 (empat) baris yaitu :
1.      Ho, No, Co, Ro, Ko
2.      Do, To, So, Wo, Lo
3.      Po, Do, Jo, Yo, Nyo
4.      Mo, Go, Bo, To, Ngo
Demikian legenda dari tutur tinular yang berabad-abad lamanya dipercayai oleh masyarakat jawa khususnya, bahkan dilakonkan dalam cerita pewayangan. Cerita tersebut sangat menarik dan patut ditelusuri dalam menggalih makna yanga ada.
Siapakah sebenarnya Aji Saka, dan makna apa yang terkandung dalam huruf jawa, serta adakah tuntunan yang harus dikaji dalam legenda tersebut. Berikut penelusuran hubungan Aji Saka, Dora, Sembada, Duga dan Prayoga dengan Ho, No, Co, Ro, Ko, Do, To, So, Wo, Lo, Po, Do, Jo, Yo, Nyo, Mo, Go, Bo, To, Ngo dalam kajian untuk menggalih misteri tuntunan yang ada dalam hubungan tersebut.

Semoga Bermanfaat

ARTIKEL TERKAIT 
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part1 
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part2
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part3
NgajiKitab Durotun Nasikhin. Usman Bin Hasan Bin Ahmad Part4
Hikmah Bersabar Dalam Menghadapi Ujian (cobaan) Dari Allah
Pendidikan SEX Ala Santri
Pondok Al Mansyuriah
| 10.30 |
Back to Top